Waktu yang Menjawab
oleh : mat roif
Ketika kita berbicara jarak tempuh,
yang terfikirkan adalah perjalanan.
Purwokerto
menuju ke Jakarta, dalam hitungan jarak berkisar kurang lebih 400 (empat ratus
dua puluh) km, jika kita menempuh jarak tersebut dengan menaiki kendaraan
seperti Mobil atau yang lain mungkin hanya akan memakan waktu kurang lebih satu
hari.
Namun berbeda
ceritanya dengan kegiatan yang di lakukan oleh sebuah sekolah yaitu PLK M (Pendidikan
Layanan Khusus Menengah) Boarding School "Mbangun Desa", jarak
tersebut akan kita tempuh dengan berjalan kaki.
Mungkin orang
beranggapan “hah ngapain jalan kaki, hari gini kendaraan juga banyak, seperti
kurang kerjaan saja” akan tetapi tekad kami sudah kuat.
Kami menamai
kegiatan tersebut Boarding School "Mbangun Desa" Long March
Purwokerto~ Jakarta untuk bangkit ber Indonesia.
Kita terbagi
dalam dua kelompok, yaitu tim inti dan tim yang mempersiapkan bahan atau materi
yang akan di sampaikan ketika kita sudah finish di Jakarta. Sedangkan tugas tim inti adalah melakukan perjalanan dan
belajar di setiap tempat yang kita singgahi, dan untuk teman kegiatan ini kita
namai Belajar Dan Berkarya Anak Desa Bangga Ber Indonesia.
Sabtu, 5 Oktober
2013 kami memulai start dari Alun-alun Purwokerto dengan di bekali Do’a dari
bapak Bupati Banyumas yaitu Ir. Achmad Husein kami pun memulai perjalanan. Dengan
memakai seragam Orange dan Biru yang bermerek BRI (Bank Rakyat Indonesia) ,selain itu
pada hari pertama kami dikawal oleh teman-teman dari SAPMA Pemuda Pancasila dan
3 Koti Mahatidana yang akan mengawal sepanjang perjalanan sampai dengan finish
di Jakarta.
Sempat terfikirkan
prosentase dalam diri saya 50% senang dan gembira, karena terpilih menjadi tim
inti, 49% tegang, dan 1% ragu ragu mengingat jarak tempuh yang lumayan banyak
dan berat jika di lakukan dengan jalan kaki, tapi itu hanya 1% masih kalah
dengan prosentase yang lain.
Tekat yang kuat
dan berfikir pelajaran dan pengalaman apa saja yang akan saya dapatkan sepanjang
perjalanan, itulah yang membuat tiba-tiba membuat tekad saya menjadi 100%
semangat untuk berjalan kaki.
Maksud dan tujuan
kami dalam berjalan kaki adalah memperingati 118 tahun BRI dan mengekspose
kegiatan anak-anak desa di Boarding School "Mbangun Desa" dan kampung
pesawahan Desa Gunung Lurah Kecamatan Cilongok yang di support oleh BRI,
menyampaikan persoalan-persoalan anak desa dan Alternative solusinya kepada
penyelenggara pemerintahan di Jakarta, menumbuhkembangkan kepedulian para pihak
(pemerintah dan swasta) terhadap anak anak desa, menyampaikan kebulatan tekad
untuk belajar dan bekarya membangun desa kepada Presiden Republik Indonesia
Dan itu akan
coba kami sampaikan dengan cara ber ikrar di depan Presiden Republik Indonesia,
”yaa kalo bisa si di istana Negara hehehe” itu adalah ke inginan kami, yang
ikrarnya seperti di bawah ini:
Ikrar
Kebangkitan Anak-anak Desa Indonesia
1.kami anak-anak
desa Indonesia bertanah air satu tanah air Indonesia
2. kami
anak-anak desa Indonesia berbangsa satu bangsa Indonesia
3. kami
anak-anak desa Indonesia berbahasa satu bahasa Indonesia
4. kami
anak-anak desa Indonesia ber ideologi
satu idiologi pancasila
5. kami
anak-anak desa Indonesia bersemangat satu semangat kita bisa
6. kami
anak-anak desa Indonesia bertekad satu tekad membangun desa
7. kami
anak-anak desa Indonesia berbangga satu bangga berIndonesia
Itulah semangat
dan tekat kami berjalan kaki.
Di sepanjang
perjalanan pada hari pertama kami jadi pusat perhatian masyarakat, mungkin
mereka berkata “ ngapain tuh pada rame rame pada jalan kaki” atau mungkin
mereka pada heran atau salut, dan mendukung.
Detik demi detik
kian lama kian berlalu. Tak terasa kami menjalani satu hari dengan jalan kaki.
Pada malam pertama kami menginap di MI Ma’arif Kranggan. Rasa pegel capek ga
karuan membuat kami sempat mengalami pergerakan yang sulit dalam menunaikan
ibadah solat, namun itu hanya berlaku pada hari hari pertama. Khususnya saya
mulai beradaptasi “akan tetapi capek masih tetep terasa tapi dikit” jika kata
temen saya Fendri dalam bahasa sehari-harinya “paling ya sepira”.
Sepanjang
perjalanan kami menghibur diri sendiri dengan bernyanyi lagu-lagu nasional dan
untuk menambah semangat kami mengucapkan sebuah yel-yel yang dipimpin oleh
komandan regu dan kadang temen temen yang lain “tapi saya juga sering” bunyinya
seperti keprok tiga kali lagi) HAAH!!!!!!! (dan keprok tiga kali lagi)
AYYEEE!!!!!!!!!!!!!,
Bentuk pembelajaran
lain yang kami lakukan disepanjang perjalanan adalah mencoba merecord kantor
BRI yang kita lewati, mulai belajar dari mengetahui bagaimana tugas pokok dan
fungsi BRI sampai pada tahapan seberapa besar jumlah nasabah serta asset yang
dikelola disana. Kita juga belajar mengenai seni dan kebudayaan, kami terbagi
dalam beberapa kelompok yang setiap kelompok pembelajarannya berbeda-beda,
kebetulan kelompok saya belajar mengenai seni kebudayaan di Brebes,salah satu
seni di Salem adalah batik “ternyata di Salem juga ada batik men” dan ada juga ciri
khas dari batik Salem yaitu dari segi warna yang cenderung lebih mencolok,
selain itu kami juga mempunyai teman baru yaitu para pegiat kesenian batik Salem,
mereka mengajarkan kepada kita khususnya saya tentang bagaimana cara membuat
dan menerangkan sampai tahap terakhir yaitu tahap penjemuran.
Dan masih ada
lagi tentang budaya seperti adat istiadat, dan yang paling unik disalem cara
mereka menyambut tamu dengan mengundang tukang son sistem dan dugeman yang
terjadi, budaya tersebut sudah di lakukan sejak lama “saya juga si sempat
berikut serta berjoget bersama masyarakat karna dingin, kebetulan bertempat di
puncak gunung … di salem yang cukup merubah suhu udara tempat terebut. Mungkin
itu saja kisah dari salem.
Kita langsung
lanjut cerita perjalanan ke Podok Pesantren AL-Barokah saung balong yang berada di kampung Guram kecamatan Palasah
kabupaten majalengka
Di sana kami di
sambut dengan istimewa juga, karena disana merupakan tempat makan lesehan,
tentu saja kami di suguhi makanan yang bergizi.
Bapak Drs H.
Khoirumam selaku penggagas asrama pondok pesantren Al-barokah saung
balong,tempat tersebut di bangu tahun 2007 dengan luah lahan 7 hektar, yang di
gunakan sebagai Bumper,kantor rapat atau yang lain, Peternakan,Pertanian
perkebun, Restoran, dan yang jelas, itu adalah pondok pesantren, berarti jelas
ada asrama santri dan masjid atau yang
lain sebagai
tempat mengaji.
Dan yang pasti itu adalah tempat yang luar biasa dalam perkembanganya
disana kami
belajar tentang peternakan seperti sapi kambing ikan dan ayam.
Untuk peternakan
sapi disana menggunakan sitem penggemukan,dimana dalam proesnya mulai dari
pemberian pakan yang di lakukan 3 kali sehari yaitu pagi, sore dan malam, dan
dalam perharinya per ekor sapi memakan dana 20-25 ribu rupiah dan dalam perkiraan
untuk kenaikan bobot per hari dapat meningkat kurang lebih 1 kilo gram.
saya sempat
meluncurkan beberapa pertanyaan kepada seoran santri yang sedang merawat atau
mengurus peternakan kambing
Namanya
Mukrkroji, ketika saya menanyakan “berapa jumlah kambing sekarang” dan dia
menjawap “ ada kurang lebih 300 ekor” dan
di sedikit menceritakan tentang tragedy yang pernah terjadi yaitu matinya separuh dari 800 ekor
kambing, dan setelah di periksa apa
penyebabnya adalah kapasitas kandang yang tidak cukup menampung kambing kambing
tersebut sehingga terjadinya tragedi tersebut. Kemudian saya bertanya lagi
“berapa kali dalam pemberian pakanya” dan dia menjawap “sama dengan sapi pagi,
sore, malam” kemudian saya bertannya “kapan pembersihan kandang di lakukan” di
jawap “setiap sehabis di beri makantterus saya bertanya “apa saja tugas kamu
dalam peternakan kambing ini” di jawap “ya seperti mencari makan, memberikan
pakan, membersihkan kandang dan dalam penjualan, atau kurang lebih keseluruhan,
dan dalam penjualan kami pun masih bisa mengambil untung, tapi itu tergantung
kemampuan dan nasip kami dalam memasarkannya,dan saya menjadi santri di sini
itu di bayar, karena saya mengurus peternakan inilah saya di bayar”.
Dan ternyata
metode pembelajaran yang di lakukan di sung balong ini cukup menarik, akan
tetapi tidak mengurangi presentasi saya untuk bangga menjadi peserta didik
Boarding School "Mbangun Desa", dan hebatnya lagi hasi kotoran yang
di produksi oleh sapi, di daur ulang menjadi Bio gas yang dimana 20kilogram kotoran
sam dengan 1meter kubik gas.
Bukan hanya itu
pembelajaranya kami juga sempat di beri penjelasan yang lebih lengkap mengenai
tempat tersebut dengan pembawa acara olehn bapak dan nara sumber ustad surya
yang aslinya orang medan, sehingga kami dapat mengetahui lebih luas lagi
mengenai pondok pesantren albarokah saung balong, kita juga sedikit belajar
tentang KSP (koprasi simpan pinjam) dengan narasumber bu susila wati selaku
menejer dan kita juga sempat di beri pembelajaran di ruang devisi saung balong
digital printing, dan ituah pembelajaran kami di pondok pesantren al-barokah
saung balong dan ketika kami ingin melanjutkan perjaanan kami terlebih dahulu
di hidangkan makanan lagi.
Dan itulah kisah
dari perjalanan di pondok pesantrn al-barokah saung balong
Lanjut
perjalanan ketika kita sudah memasuki daerah kita juga di sambut dan di
fasilitasi dari teman-teman perhutani dan yang istimewanya lagi mereka juga
ikut mengawal kita sampai ke Jakarta.
2 hariketika
kita melalui jalur indramayu, panas terik matahari semakin menyengat mewarnai kulit kami
tman-teman banyak menyebut jalur tersebut adalah jalur afrika, dengan kondisi
gersang tandus dan gundul-ndul, sehingga muncul sebuah karangan puisi
WAKTU
Lembayung itu kini kian ta tampak
Terhanyut dalam buaiyan sang mentari
Sang pengatur waktupun akan terus
memainkan peranya
Selagi kita selagi kita terlena pada
kekhilafan kita
Wahai
sang pemangsa dunia
Berbijak
dan bersandarlah pada yang kuasa
Dan
bersadrlah bahwa kita hidup bukan sendiri atau berdua
Janganlah
merasa berpuas dan ber bangga diri dengan kesombonan
Segeralah bertobat
Segeralah mencari bekal untk di
tunjukan padauya
Sebelum murka sang kuasa tiba
Tersenyum dan ber syukurlah selagi
masih ada waktu
dalam intinya
puisi tersebut bermakna karna manusialah alam seperti itu, Karya edi elaku koti
mahatidana pemuda pancasila (pengawal perjalanan) namun bliau menyerahkan karya
itu kepada saya.
Dan dari
teman-teman perhutani juga memfasilitasi kami tidur di hotel pangestu resto
& catering yang beralamatkan di. Jl. Raya klari no.9kosambi 41371 karawang
timur, meskiun satu malam akan tetapi itu adalatempat tidur ternyaman selama
perjalanan
Selain itu kami
juga menyempatkan untuk belajar di setiap kantor kantor perhutani sekedar
sering atau ngobrol santai kepada pakasper maupun pegawainya.
Dan sambutan
dari teman teman SAPMA Pemuda Pancasila yang juga luar biasa, saya mengakui
bahwa keluarga yang paling besar dan paling rukun adalah kelurga Pemuda
Pancasila., itu sangat terbukti dalam prjalanan kami menuju ke Jakarta sambutan
temen temen dari PAC SAPMA maupun Pemuda Pancasila yang sangat luar biasa
Kami
mengucapkan kepada temn teman semua atas
sambutn yang istimewa “ya maklum lah kita kan komisariat baru, jadi kalau
kadang banyak kekurangan ya mohon di maklumi lah”.dan setelah melalui proses
tersebut kita smpailah pada saat yang ber bahagia di mana tanah Jakarta telah
kami injak, rasa bahagia menyelimuti perasaan kami, ketika kita mengingat saat
ari pertama kita memulai perjalanan dalan angan saya sempat tersfikir “sampai
atau tidak ya” dan ternyata pada hari kami selesai menjalankan misi jalan kaki,
akan tetapi itu blum berakhir begitu saja sesuai dengan maksut dan tujuan kami
akan melakukan kunjungan ke beberapa kantor kementrian.
Dan kurang lebih
segitu cerita dari saya, walaupun singkat namun itulah yangkami lakukan sekian
saya akhiri terima kasih
Wasalamualaikum
Wr.Wb.
Hormat saya
Nama ; Mat Roif
peserta didik
Boarding School "Mbangun Desa"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar