Sabtu, 21 Desember 2013

Perjalanan Malam pun Jadi



Perjalanan Malam pun Jadi
oleh : veni dian safitri

Klakk..klukk..klakk..klukk, terdengar langkahan suara sepatu yang saling serentak serambi berkumandang untuk menyemangatkan tubuh. Lampu-lampu kota yang gemerlap menambahkan keindahan suasana dalam hati.
Perjalanan malam pun jadi, ketika long march dari Purwokerto ke Jakarta dan pada malam itu sudah di hari ke-14. Saya dan teman-teman team bergegas bersiap-siap dari masjid di daerah Cikampek habis melaksanakan sholat maghrib untuk melanjutkan perjalanan di waktu malam.. hmmm sungguh asyikk dan menyenangkan.
Suara yang muda saling berkicau untuk menemani perjalanan di waktu malam hari. “ yang muda..mbangun desa 3X.. yang tua..bangun, Pancasila.. abadi 3X, NKRI.. harga mati, Hutan..lestari”  kata-kata itulah yang selalu saya dan teman-teman lontarkan ketika sedang melakukan perjalanan untuk menambah semangat saya dan teman-teman.
            Ketika saya dan teman-teman sedang melakukan perjalanan long march pada malam hari di daerah cikampek, kerawang saya dan teman-teman team di kawal oleh teman-teman dari purhatani KPH Bogor untuk menuju tempat penginapan yang ke 14. Di tengah perjalanan itu ada kejadian yang menurut saya sendiri lucu, karena dua teman dari KPH Bogor yang mengawal saya dan teman-teman team memberikan susu real good dan saat memberikannya dua teman dari perhutani itu posisinya saling berjejeran, pas waktu itu salah satu teman saya bernama Windo yang paling depan sekaligus memegang bendera mau ngambil susu dua. Yang pertama dari bapak-bapak barisan pertama, yang kedua dari barisan kedua padahal teman saya itu sudah mengambilnya dari bapak-bapak yang barisan pertama dan bapak-bapak yang barisan ke dua cuma hanya mau ngasih sedotan, karena mungkin teman saya itu bingung mau di kasih lagi apa tidak akhirnya mau mengambil susu lagi.                                  
Saya sendiri yang di belakangnya pun ikut-ikutan, dan teman saya Qomah juga demikian. Setelah di bagikan saya dan dua teman saya ketawa dengan kejadian itu, Karena sama-sama bingung juga hehehe.. mungkin bagi kalian tidak menarik namun bagi kami itu pengalaman yang bisa dibilang lucu karena kami merasakannya.
            Cukup lama berjalan tak terasa  saya dan teman-teman team sampai di tempat penginapan. Karena dari pengawalnya bilang kalau jarak perjalanannya kurang lebih 50 Km lagi dari tempat penginapan. Woow tapi walau jarak masih jauh semangat dan tekad masih berbenah dalam hati. Setelah berjalan beberapa meter tak terbayangkan dan tak terduga untuk istirahat malam ini cukup nyaman karena tempatnya di hotel pangestu yang di biayai oleh teman-teman dari perhutani. Ada hikmah dari perjalanan ini Berjalan dari pagi buta sampai malam hari dengan penuh perjuangan dan di balik kesusahan pasti ada kesenangan.
            Semua pengalaman-pengalaman yang saya dan teman-teman team hadapi, khayati dan nikmati akan menjadi kenangan terindah. Di perjalanan malam ini pun demikian apa yang kita rasakan dari awal kita berjuang akan menjadi kenangan yang terindah untuk anak dan cucu kita.

1000 Tantangan Menuju Gemilang



1000 Tantangan Menuju Gemilang
oleh : utfi utami

MLAKU, atau yang lebih kita tau dengan sebutan jalan kaki. Sepertinya orang akan lebih memilih mengendarai motor ataupun mobil untuk bepergian. Apalagi pada usia remaja kebanyakan mereka gengsi jika harus berjalan kaki. Selepas dari itu, Pendidikan Layanan Khusus Menengah Boarding School "Mbangun Desa" membuat sejarah yang luar biasa, LONGMARCH ±360 km Purwokerto-Jakarta. Pertama kali mendengar akan dilakukannya Longmarch ini, aku dan teman-teman tidak merasa ragu ataupun mengeluh, semua mengatakan “SIAP!”.

            Pada tanggal 5 Oktober 2013 di Pendopo Sipanji Purwokerto kami start dengan dilepas oleh Bupati Banyumas Ir.H. Ahmad Husein serta didampingi oleh Bu Lisco (CSR BRI Pusat) dan pak Suderajat (Dirut BRI Cabang Pwt) . Petualangan sudah dimulai.
            Tapak demi tapak kami jalani melukiskan jejak 20 tim inti di sepanjang jalan yang terlewati. Segala rasa dan asa kami Hadapi, Hayati dan Nikmati. Aku yang merasa fisikku telah lemah terus ku jalani semua. mulai dari kesleo pada hari pertama berangkat membuat aku harus naik mobil bersama Bung Yuda (DAN KOTI Pemuda Pancasila Banyumas) yang ikut mengantar pada hari pertama. Rasa sakit mulai bertambah ketika muncul 4 bentolan berair di telapak kakiku. Aku mencoba terus berjalan dan semangat teman-teman membuatku tergugah dan lupa dengan rasa sakit itu. Nyanyian demi nyanyian kita dendangkan di sepanjang perjalanan diiringi pemandangan alam dan lingkungan sekitar. Ketika aku sudah merasa lemah, waktunya cadangan keluar dari mobil dan masuklah aku, begitu pula dengan yang lain terus bergantian.
            Ketika sampai di tempat istirahat yang ke-3, 7 Oktober 2013 tepatnya di rumah pak Rukat, pak Koti(Komando Inti)  Irun berkata “ sini bentolnya tek sudat”, aku sempat takut dengan rasa sakit tapi demi kesembuhan aku berkenan disudat dengan jarum. Bentolan baru sembuh beberapa hari kemudian kakiku tiba-tiba bengkak, mungkin itu bekas kesleo beberapa kali. Memang perjalanan ini penuh dengan tantangan, begitu pula dengan teman-temanku bahkan ada yang sampai pingsan dan menangis. Begitu juga denganku, waktu di penginapan ke-4, 8 Oktober 2013 tepatnya di Gunung Lio kami mendirikan tenda di tengah-tengah hutan. Waktu maghrib tiba dalam keadaan gelap gulita kami bersama-sama mencari tempat sumber air untuk berwudhu, setelahnya kita bergantian sholat di sebuah mushola kecil. Ketika itu aku tengah menjadi imam sholat temanku Devi, dirakaat kedua dalam bacaan Al Fatihah aku merasa tak karuan dan akhirnya “Gabruk”, aku pingsan dan tak tau lagi.
Petualang terus berlanjut. Benar-benar tantangan yang luar biasa ketika kami melewati jalur Indramayu, terbentang disana fatamorgana melambai-lambai menyapa kami disepanjang jalan sekitar 23 km. Tak hanya itu, dijalur ini kami berusaha terus berjalan dengan dikelilingi tanah kering, hutan terbakar dan pepohonan yang tak rimbun lagi membuat kami harus berteman dengan panasnya lingkungan dan matahari siang itu.
            Luka sudah sembuh, aku siap berjuang lebih maksimal lagi. Memang kami tidak sekedar berjalan. Di sepanjang perjalanan ada alam membentang, ada masyarakat dan ada lingkungan yang menjadi teman belajar. Selain itu, belajar tentang perbankan khususnya BRI sebagai sponsor kegiatan Longmarch ini. Ada juga belajar tentang kehutanan dan pegelolaannya bersama orang-orang yang menangani langsung, karena dibeberapa tempat yang kami singgahi kebetulan dari perum perhutani. Yang lebih lagi, baru tanggal 22 September kita dilantik sebagai SAPMA Pemuda Pancasila Komisariat Boarding School "Mbangun Desa" kita sudah menjalin kedekatan tali persaudaraan dengan SAPMA ataupun Pemuda Pancasila yang kita singgahi.
            Ya...suka duka dan lika liku perjalanan kita lewati. Mulai dari tidur di lantai karpet, di kasur, di tenda bahkan di hotel kita rasakan semuanya begitu indah. Setiap kita memiliki judul yang berbeda ketika mengungkapkan dan menceritakan semua hal selama Longmarch.
            Pada akhirnya tanggal 21 Oktober 2013 kita finish di Gedung Manggala Wanabakti (Kementerian Kehutanan). Dua hari kemudian teman-teman dari Purwokerto dan Mts PAKIS menyusul dengan bis. Kita semua menginap di hotel Arsonia selama 6 hari yang difasilitasi oleh BRI Pusat. Terima kasih BRI.
            Puncaknya  pada tanggal 28 Oktober 2013 pukul 10.00 Wib kita mulai berjalan kembali dari Monumen Nasional (Monas) menuju Istana Negara. Walaupun kita tidak bertemu pak presiden SBY, Ikrar Kebangkitan Anak-Anak Desa Indonesia tetap kita gelorakan di seberang jalan istana negara.

            Memang terkadang apa yang kita dapatkan tidak sesuai dengan yang diharapkan. Tidak bertemu pak presiden, kita malah memiliki kesempatan yang begitu berkesan. Setelah menuju istana kami menghadiri puncak acara nasional Dirgahayu Pemuda Pancasila yang ke 54, puncak acara dimulai pukul 19.00 wib 28 Oktober 2013 setelah sebelumnya kita juga menghadiri perayaan yang pertama 27 Oktober 2013. Kita disambut dengan sangat baik. Bahkan selesai acara sebelum kami pulang kami di anugerahi piagam penghargaan oleh SAPMA Pusat ka Yedidiah Soerjosoemarno selaku ketua umum.
            Menjadi kebanggaan tersendiri untuk kita semua. banyak orang terkesan dan kagum dengan apa yang telah kita lakukan. Semoga menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk melakukan hal yang dianggap gila padahal itu adalah suatu karya yang luar biasa. Selamat berkarya.
SALAM  ANAK DESA !

DARAH JUANG


DARAH JUANG
oleh : Yuli Supriatin

Pada baju coklat yang aku pakai menandakan pramuka berani. 
Pada baju orane biruku pakai menandakan semangat bangga ber-Indonesia
Pada baju biru boardingku pakai pertanda akulah siswi Boarding School "Mbangun Desa"
Pada baju lorekku pakai pula bertanda di setiap darah yang mengalir adalah jiwa Pancasila
Pada baju hutanku pertanda akulah anak desa yang akan memimpin desa untuk hutan tercinta


            Disini negeri kami tempat padi terhampar ,samuderanya kayaraya tanah kami subur tuhan, di negeri permai ini berjuta rakyat bersimbah luka, anak kurus tak sekolah pemuda desa tak kerja, mereka di rampas haknya tergusur dan lapar, bunda relakan darah juang kami padamu kami berjanji, mereka dirampas haknya tergusur dan lapar, bunda relakan darah juang kami padamu padamu kami mengabdi.
Berawal dari semangat pagi yang kami sambut bersama di asrama tercinta kampus Boarding School "Mbangun Desa" . jam menunjuk pukul 08.00 seluruh peserta didik dan tutor menuju ke pendopo Bupati Banyumas pastinya depan alun-alun Purwokerto peresmian tim long murch Purwokerto-Jakarta dilepas oleh bapak Bupati Banyumas Bapak.H.Husain disaksikan bersama CSR BRI pusat diantaranya Bu.Lisco dan kawan-kawan tepat pukul 08.45 aku dan kawanku melangkahkan kaki kami menelusuri jalan untuk membulatkan tujuan kami berikrar di istana negara pada hari sumpah pemuda Bapak.Sudrajat tanggal 28 Oktober nanti. Mungkin  sebagian orang beranggapan bahwa “GILA YAH TU ORANG KE JAKARTA KOK JALAN KAKI ” namun hal ini tak menyurutkan niatan ku untuk menghentikan langkah kaki ini sumpah atau ikrar yang nantinya akan kami suarakan memuat 7 poin penting yaitu 3 poin isi dari sumpah pemuda dan 4 poin kalimat seruan dari anak anak desa yang ingin bangkit dari kebodohan kemiskinan dan ketertinggalan yaitu: beridiologi satu idiologi pancasila,bersemangat satu semangat kita bisa,bertekad satu tekat membangun desa, berbangga satu bangga berIndonesia itulah seruan seruan anak anak desa yang ingin di perhtikan oleh masyarakat pada umumnya dan pemerintahan Indonesia pada khususnya.long murch pun tidak menutup kemungkinan kami sebagai pelajar berhenti belajar namun dalam kegiatan ini juga termasuk bagian dari proses belajar karena di setiap kami menginjakan kaki dan melangkah di situlah kami akan belajar sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada. Hal yunieek yang aku rasakan dalam setiap perjalanan yaitu ketika menemui kantor-kantor BRI di setiap jalan kami harus meminta ijin bertemu dengan pimpinan BRI setempat dan menceritakan kegiatan yang sedang kami lakukan di teruskan dengan wawancara dengan durasi waktu paling lama 15 menit. MENGAPA hal ini kami LAKUKAN ..????jawab ku: karena sponsor dan sport paling besar tidak lain dari BRI peduli alhasil ternyata BRI dulu lahir di kota satria ini yaitu kota Purwokerto dan dalam kegiatan ini pun akan melahirkan kembali sosok pemimpin bangsa yang berani melangkahkan kaki ke daerah ibu kota bangsa tercinta.1minggu telah kami lewati Jumat,11 Oktober 2013 kami menginap di kos rumah ibu Hj.Endes Desa Cijoho,Kec.Kuningan,Kab.Kuningan sungguh terjadi hal mistis disini!!! Meneurut cerita ada makhluk ghoib yang menunggui rumah kos ini dan ternyata benar aku menyaksikan sendiri ada sosok makhluk yang berbeda dengan manusia yang lain halnya adalah makhluk ciptaan Alloh lainnya sungguh pembelajaran yang besar menerutku karena mememang kuasa allohlah yang ter besar dan teragung, cerita lanjutnya hari ke 12 aku dan kawan-kawan menginap di sekertariat PP cirebon disini aku belajar learning to do dan learning to now ceritanya aku di ajak mz.ivan anggota PP Cirebon membeli tongseng namun aku merasa heran karena dari proses pembelian daging sampai memotong kecil bentuk dadu,dan menggorengnya kami lakukan sendiri sungguh hal yang baru aku lakukan semasa aku membeli makanan eh,,ternyata malah aku melayani sendiri,, seru asiik dan sngat takjub aku mengenal tradisi seperti ini.. cerita singkat 17 hari telah aku dan kawan-kawan jalani berjalan kaki menuju ibukota ini dan akhirnya pukul 21.39 dini hari kami sampai di lokasi finish yaitu gedung manggala wana bakti Jakarta Pusat tepat kami menghentikan langkah kecil kami sembari bersorak asiikkkkk....horeeeeee... kami sampai dan kami bisa melakukan ini dan sorakan ini belum menjadikan kami puas karena orang yang ingin sukses adalah orang yang akan melakukan hal baru,, kegiatan kami yang telah terjadwal setelah di ibukotaakan kami lakukan pada tanggal 23 -28 nanti sembari menunggu kloter ke 2 sampai di Jakarta.esok haripun datang dan kami bersorak gembira lagi karena kami bertemu dengan teman kami yang ada di kloter ke 2 yang menyusul kami awal kegiatan kami lakukan dikementrian kehutanan, kantor pusat BRI,kemendikbud,kemenag,huma  dan kunjungan ke monas,sampai di penghujung puncak tanggal 28 oktober kami menyeru ikrar yang kami suarakan di samping jalan depan istana kemerdekaan karena kami belum di ijinkan untuk bertemu dengan presiden yang awalnya menjadi mimpi kami untuk bertemu dan berikrar didepan pak presiden,,tapi lagi lagi ka i tak pantang semangat kerena mungkin pak presiden beleum berkesempatan bertemu kami he ; he;

Malam harinya aku dan kawan kawan semua berkesempatan merayakan dirgahayu pemuda pancasila yang ke 54 di Pekan Raya Jakarta yang di hadiri oleh  PP dan sapma se Indonesia ,, sungguh merasa bangga juga karena kami mendapat piagam dan perakat dari PP Pusat bahwa kami telah berani melakukan hal yang belum tentu orang lain bisa melakukan dan kamilah yang akan membangkitkan sapma PP Indonesia kembali dari fakum kemaren karena kami juga termasuk anggota dari sapma Banyumas .sungguh indah bahagia dan terasa menakjubkan aku dan kawan-kawan bisa melakukan perjalanan jauh kurang lebih menempuh jarak450 km dengan jalan kaki. Terlintas dalam fikirku ternyata kita hebat kita bisa dan aku yankin yang membaca cerita ini juga orang-orang yang hebat pula. Terimakasih kami sampaikan kepada semua pihak yang mendukung dalam kegiatan ini terutama dan yang paling utama sekolah Boarding School Mbangun Desa, BRI Peduli, PP dan Sapma Banyumas, Perum Perhutani BKPH dan Kph yang kami lewati di setiap jalan dan masih banyak yang tidak bisa aku sebutkn satu persatu .dan inilah aku inilah ceritaku dengan sederhana dan apa adanya  dengan cerita perjalannku pada saat Long March kemaren semoga kalian senang membacanya dan bagi pembaca kalian juga pasti bisa ko seperti aku dan kawan kawan yang lain Yuli aja bisa kenapa kalian tidak!

SEJENAK RINGKAS CATATAN DELAPAN TANGGAL


SEJENAK RINGKAS CATATAN DELAPAN  TANGGAL
oleh : mat tovik


Setelah menempuh perjalanan selama hampir lima jam. Akhirnya, dengan diantar bapak dan kedua temanku, kami berempat sampai di destinasi. PLK M (Pendidikan Layanan Khusus Menengah) Boarding School "Mbangun Desa" , yang terpusat di Desa Ketenger Baturraden Banyumas, sekitar pukul  empat sore. Saat kami tiba, para siswa-siswi sedang melakukan forum atau musyawarah. Entah sedang membahas apa, tapi itu membuatku penasaran, karena aku orang yang minimal pengalaman organisasi. Dan disinilah aku akan belajar dengan dimulai dari Nol ‘agak sedikit besar’.Sebagai anak baru dari kawasan Dieng (yang dingin) ternyata temperatur di tempat ini tidak terlalu memaksaku untuk terlalu kepanasan, karena udaranya relatif sejuk dan berlokasi di tempat masih cukup asri.
Baru empat hari di Boarding, genap pada hari ke-5 (Sabtu 05 Oktober ‘13) aku sudah terlibat dalam suatu kegiatan yang menurut pertimbanganku cukup fenomenal. Bagaimana tidak, karena disini akan dicatat oleh sejarah pribadiku (dan yang terlibat) bahwa aku akan melakukan jalan kaki dengan jarak tempuh terjauh. Dengan waktu tiga jam jalan kaki, menelusuri jalan raya dengan paparan sinar UV yang cukup menyengat.
Sebelum mandi peluh. Kami (saat itu ada sekitar 34 anak) terlebih dahulu meminta restu dan do’a kepada bapak Bupati Banyumas. Bpk. Ahmad Husain, di ‘markas’ beliau. Beliau menerima kedatangan kami dengan hangat, memberi dukungan dan motivasi dan tak lupa juga berfoto bersama sebelum berangkat. Berangkat jalan kaki ke Jakarta. Long March to Jakarta. Dengan tujuan utama Istana Presiden. Istana Rakyat, istana yang diisi oleh wakil-wakilnya (‘ketua’  jika ada kesempatan). Tujuan kami adalah untuk menyampaikan aspirasi sebagai anak-anak desa, untuk belajar ke beberapa birokrat, menteri, dan belajar apa saja yang sekiranya bisa menambah wawasan kami semua. Dan yang terutama adalah berikrar didalam Istana Presiden didepan bapak SBY. Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda yang akan diperingati pada 28 Oktober mendatang.
Dari pendopo  bupati, sekitar jam sembilan, dengan membawa bendera Bank BRI yang telah memfasilitasi dan mendukung penuh kegiatan ini, kami siap melakukan langkah pertama, yang akan mengawali ribuan langkah, bahkan jutaan langkah anak-anak Boarding School "Mbangun Desa" yang masih muda belia dengan semangat tidak kalah dari orang-orang yang lebih dewasa.
Saya, sebagai anak baru hanya ikut mengiringi ‘Tim Inti’ selama kurang lebih tiga jam perjalanan. Meski begitu, sepatu terasa panas hingga telapak kaki terasa melepuh. Perih. Tapi itu tidak membuat saya mengeluh karena para ‘kakak kelas’ akan melakukan langkah yang jauh lebih ‘berbahaya’ dan menantang. Kestabilan emosi dan fisik benar-benar sangat dibutuhkan. Karena jalan kaki rute Purwokerto-Jakarta itu tidaklah mudah. Meski baru jalan dan tidak seberapa jauhnya. Kami  sudah beberapa kali istirahat dan cooling down untuk sekedar melepas lelah dan membasahi kerongkongan dengan air mineral yang sudah disiapkan oleh rekan-rekan Pemuda Pancasila cabang Banyumas. Karena dengan keberadaan mereka inilah perjalanan kami dan “Tim Inti to Jakarta” merasa lebih aman selama masa kegiatan ini berjalan.
Setelah menempuh jarak dari Pendopo Bupati. Perjalananku terhenti di kantor kecamatan Cilongok, karena ‘kuota-ku’ hanya sampai pada batas itu. Dari total tiga puluh empat anak. Yang melanjutkan Long March to Jakarta tersisa dua puluh anak (sebagai Tim Inti). Dan kami, sisanya bisa disebut sebagai tim cadangan atau tim pengantar sementara. Dan akhirnya, kami (yang tersisa) kembali pulang ke Boarding karena ada pe-er yang siap ditugaskan. Meski saat itu aku belum tahu apa-apa. Dan planningnya kami akan menyusul ke Jakarta pada enam belas hari mendatang (22 oktober). Selama masa belasan hari itu, sebelum menyusul ke Jakarta, kami dipersiapkan untuk menyusun rencana berupa gagasan-gagasan dan ide yang sekiranya bisa disampaikan ke ‘target-target’ yang telah dituju sebelumnya.
Akhirnya hari itu tiba (22 oktober ’13). Dengan pakaian dan bekal seadanya, kami siap menyusul ke Jakarta dengan tambahan ‘pasukan’ anak-anak MTs Pakis, dari Kampung Pesawahan desa Gunung Lurah.
Setelah kumpul rembug di aula kantor kecamatan Cilongok, sekitar jam setengah tujuh, dengan menggunakan bus kami siap berangkat. Go to Jakarta. (Ini baru kali kedua aku ke Jakarta).
            Alhamdulillah perjalanan lancar tanpa kendala hingga kami bisa bertemu dengan Tim Inti yg menemui kami di Area Taman BRI yang sejuk. Rona bahagia dan lelah nampak terlihat dari wajah mereka semua. Selama beberapa menit kami berbincang-bincang dengan pasukan Tim Inti perihal perjalanan dan sedikit tentang pengalaman mereka berdasarkan berita maupun info yang kami terima selama masih berada di Boarding. Kegiatan dilanjutkan sesuai prosedur. Yaitu ke kantor ‘gedung’ BRI Pusat yang berada di lantai 20, dengan kendaraan berupa lift. Disana kami disambut dengan antusiasme, bak keluarga. Cara  mereka yang sangat familiar membuat kami tidak jenuh mengikuti forum yang mereka persiapkan untuk menyambut kami. Meski kami tampil seadanya ala kadarnya anak-anak desa masuk kota. Kami juga disediakan sarana  sarapan pagi ala orang Eropa. Yaitu roti ukuran jumbo lapis daging tipis yang tersembunyi didalam adonan matang tersebut. Enak sekali, karena ditambah bonus rasa lapar yang sudah meronta-ronta ingin diberi makan.
            Dalam acara tersebut, hadir dihadapan kami Bpk Gatot. Direktur SDM BRI, Ibu Lisco. CSR BRI, Pak Eko, Pak Ali dari yang semua itu pejabat teras BRI, dan beberapa staf lainnya. Mereka semua sangat ramah dan menyenangkan. Forum juga sempat diselingi canda dan tawa yang menggelegar bagai berada di opera komedi. Begitulah cara Ibu Lisco menghibur anak-anak desa yang masuk kota.
Setelah beberapa jam rembug bersama mereka semua. Menjelang siang, kami dipersilahkan untuk makan siang bersama para staf yang lain (masih) di Gedung BRI Pusat. Usai makan siang, kami pamit untuk melanjutkan kunjungan ke Kemendikbud.
            Di Kemendikbud kami juga juga disambut dengan baik dan menyenangkan. Disana kami belajar apa saja dan bertanya apa saja yang ingin ditanyakan. Terutama saat berada di perpustakaan kementerian tersebut, kami sangat betah. Apalagi ada Ibu Neli, Bagian Pengelolaan Koran dan Majalah yang selalu mendampingi acara ‘window shopping’ kami, yang selalu memberi pengarahan dan menjawab berbagai pertanyaan. Kami juga mengunjungi beberapa ruang kerja. Antar lain Ruang Informasi, Monitoring Media, Call Center dll. Lalu kami dialihkan oleh Kep-Sub Bidang Aspirasi Masyarakat untuk mengunjungi Galleri Olimpiade yang berisi koleksi foto para juara olimpiade. Dari anak SD sampai tingkat Akademik dan beberapa lukisan yang sangat menarik dan detil. Malam menjelang, kami kembali lagi ke penginapan yang telah disediakan dan ditanggung oleh BRI di ‘mbah Arso’, atau Hotel Arsonia. Setelah membersihkan diri dan makan malam, akhirnya kami bisa beristirahat dengan pulas.
            Paginya (24 oktober) setelah sarapan, kami berkunjung ke SMK 57 Jaksel. Kedatangan kami segera disambut dengan menu makan siang yang lezat. Usai makan dan sholat dhuhur, kami segera berkumpul di ruang yang telah disediakan. Dengan dipimpin oleh Mba’ Sisil, yang agak mirip Revalina S Temat itu, dan beberapa rekan dari HuMa (Perkumpulan untuk Pembaharuan Hukum Berbasis Masyarakat dan Ekologis), acara berlangsung meriah dan sangat menyenangkan. Dan yang paling utama adalah kami mendapat banyak pengetahuan dan pengalaman tentang hukum. Menjelang sore hari. Hampir maghrib, kami pamitan dengan ditutup sesi foto bersama.
            Hari berikutnya, bertepatan dengan hari Jum’at (25 Oktober) kunjungan berikutnya adalah Kemenag (kementerian Agama-satu-satunya di Dunia). Lagi-lagi kami disambut dengan hangat sekali, bak keluarga atau mitra. Didalam majelis, kami diberi suguhan-suguhan yang sangat bermanfaat oleh ibu Ida, Kep-sub bagian Sarana dan Prasarana, Bpk. Abdul Mu’in, Bagian Kesiswaan, Ust. Rusdi, Bagian Pondok Pesantren, dan Bpk. Rudi, bagian Kelembagaan.
“Ajtajhidu farqo. Aku bersungguh-sungguh diatas rata-rata orang lain.” Kata Ustadz Rusdi memberi suntikan energi pada kami sebelum acara usai karena waktu pelaksanaan shalat jum’at telah dekat.
            Usai ‘jum’atan’ di Masjid Istiqlal, kami menyempatkan diri untuk berjalan-jalan ke MONAS. Setelah puas jalan-jalan dan berfoto bersama, sore itu kami kembali ke “Mbah Arso” untuk istirahat. Karena rencana esok hari aku dan teman-teman akan segera ke Universitas Indonesia (UI). Dan tepat pada hari sabtu 26 oktober, akhirnya kami tiba di UI. Disana aku dan teman-teman mengikuti Seminar Nasional yang bertajuk Sosial Enterprise dengan tiga tokoh pembicara. Salah satunya yang paling saya kenal dari ketiganya adalah Bang Jay (Zainal “teroris” Abidin). Karena sebelumnya aku pernah kenal beliau melalui bukunya: Monyet Aja Bisa Cari Duit. Namun karena waktu yang sedikit, kami hanya mengikuti seminar satu sesi karena sesi kedua dilaksanakan usai makan siang. Dan setelah makan siang kami langsung pergi. Pulang ke House of Arsonia. Atau yang lebih saya suka dengan sebutan “Mbah Arso” itu.
            Destinasi berikutnya, setelah singgah di MONAS untuk kali kedua (minggu, 27 Oktober), kami ke Pekan Raya Jakarta (PRJ) untuk mengikuti acara yang diadakan oleh  Pemuda Pancasila dan SAPMA (Satuan Pelajar dan Mahasiswa) Pemuda Pancasila. Momen tersebut adalah untuk memperingati hari ulang tahun Pemuda Pancasila yang akan dilaksanakan pada malam puncak acara, yaitu besok malamnya.
            Tanggal 28 Oktober, pagi-pagi sekali kami sudah packing karena ini adalah hari terakhir kami singgah di “Mbah Arso”. Karena ini hari spesial yang kami tunggu selama enam hari ada di Jakarta. Tujuannya Istana Presiden, bertemu dengan bapak Presiden untuk mengucapkan Ikrar Anak Desa didepan beliau, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Namun untuk bertemu dengan Bapak Negara, meski telah sampai di Ibu Kota Negara ternyata tidak semudah itu. Secara garis besar, kami gagal menginjakkan langkah kami didalam Istana, apalagi bertemu tuan rumah. Namun hal itu tak membuat rencana pembacaan ikrar tertunda. Dengan semangat yang masih menyala, dengan serentak dipimpin oleh senior Budi, kami ber-Ikrar, menyanyikan lagu Indonesia Pusaka, dan melakukan Hening Cipta  meski hanya di seberang jalan Istana. Setelah mengabadikan momen tersebut dengan lensa digital yang selalu dibawa Kang Is, kami bermanuver ke PRJ untuk mengikuti acara ulang tahun PP (Pemuda Pancasila) yang ke-54.
            Acara masih akan dimulai sekitar jam tujuh malam, namun kami tiba disana pukul satu siang lebih awal. Itu karena waktu yang seharusnya dihabiskan bersama bapak Presiden harus kami sisakan untuk menunggu. Namun akhirnya waktu yang ditunggu telah tiba. Disana kami dipertemukan dengan Para Anggota Sapma dan PP dari seluruh Indonesia. Mereka sangat familiar dan mudah sekali akrab dengan para anggota meski baru pertama kali bertemu. Dan dari para petinggi dan tokoh yang hadir diacara tersebut, orang yang paling saya kenal adalah bapak Ruhut “Poltak” Sitompul. Acara berlangsung meriah, salah satunya dengan tampilnya para Penari Shaman dari Aceh, dan beberapa pertunjukkan musik yang cukup menghibur sebagai penutup acaranya...
...dan itulah malam terakhir kami berada di Jakarta. Banyak pengalaman dan pengetahuan yang saya dapat dari agenda ini. Juga ucapan terima kasih saya sampaikan sebesar-besarnya kepada Bank BRI, yang telah memberi support dan sebagai fasilitator acara ini, kepada Perum Perhutani, SAPMA PP cabang Banyumas, dan beberapa pihak yang telah saya sebut diatas (meski tidak semuanya), karena tanpa kehadiran mereka semua, acara ini pasti tidak akan mudah dilaksanakan. Karena kita adalah bangsa Indonesia! Saling dukung, tolong-menolong dan bekerja sama agar tercipta Indonesia yang tangguh dan berdikari.
Bangga ber Indonesia! Pancasila, abadi! NKRI, harga mati!