Jumat, 17 Januari 2014

MIMPI ITU BELUM REDUP DIHATINYA


MIMPI  ITU BELUM REDUP DIHATINYA
by : budi teman sekamar moe
Lirih ia berrnyanyi sembari memetik senar gitar yang Ia pinjam dari teman sekamarnya di asrama PLKM Boarding School “ Mbangun Desa”. Tak tampak diwajahnya jika ia memendam berjuta lara dalam hatinya. Hari – harinya dihabiskan seperti layaknya peserta didik lainnya dari PLKM Boarding School “ Mbangun Desa”, berbagi tugas piket, dan juga belajar menjadi kader pembangun desa, dengan harapan kelak dihari tuannya ia tak mau lagi melihat anak – anak desa merasakan apa yang ia rasakan saat ini.
Beni Wiji Purwanto, adalah nama yang cukup sederhana, yang diberikan oleh kedua orang tuannya ketika Ia dilahirkan. Anak asal desa Rangkah Kecamatan Buayan Kabupaten Kebumen ini, kini tengah merajut mimpi di tempatnya kini Ia belajar yakni PLKM Boarding School “ Mbangun Desa”. Secerca harapan kembali tersambung setelah lama terputus karena keadaan.  Keadaan yang memaksannya menjadi seorang anak yang hidup tanpa mimpi, karena dahulu ketika ia belum bersekolah di PLKM Boarding School “ Mbangun Desa” bermimpi saja ia pun enggan.
Pengusaha sukses, adalah mimpinya kini setelah bersekolah di PLKM Boarding School “ Mbangun Desa”  , mimpi yang baginya sangat berharga, karna hanya itulah satu – satunya yang ia miliki saat ini selain keluarga yang orang sekitar rumahnya menganggap sebagai keluarga yang tak berguna. Lama sudah ia tak merasakan dekapan hangat sang wanita yang melahirkannya di dunia ini, ibu yang kata orang adalah malaikatnya kini terbelenggu oleh kerasnya rantai pasungan. Ibundanya yang bernama ibu Sarinah sudah lama mengidap penyakit kejiwaan, rasa takut dan tertekan sendari kecil membuatnya hidup dalam kebisuan. Ini yang membuat Beni jauh dari sekitarnya,maupun sanak familinya. Beni yang selalu di cemo’oh, dan juga beni yang selalu di salahkan ketika ibundanya meronta mengamuk membuat para tetangganya terganggu.
Tapi apakah salah beni, sehingga ia didiskriminasi oleh sekitarnya, padahal seharusnya merekalah teman dan juga pelipur lara baginya. Ayahnya yang bernama pak Ratno yang sehari hari bekerja sebagai penderes kelapa hanya bisa mengelus – ngelusi rambutnya yang ikal itu ketika ia mengadu banyak yang melecehkan keluargannya. Beni pun sadar dengan kondisi ekonomi keluargannya yang rendah serta ditambah lagi dengan keadaan ibunya yang seperti itu, membuatnya menjadi pribadi yang tak banyak tingkah.
Selulus SMP, pada tahun 2012 lalu ia memutuskan untuk tidak lagi bersekolah, karena ia merasa iba melihat ayahnya yang harus membanting tulang demi menghidupi tiga orang anaknya. Kala itu Beni bekerja sebagai penjual batagor bersama saudaranya dikota Gombong, kebumen. Meski Ia menjadi seorang pedagang batagor, sesungguhnya dalam hati kecilnya ingin merasakan bersekolah seperti anak yang lain, namun sekali lagi, latar belakangnya terus menghantui, sehingga ia pun tak berani meminta bersekolah lagi kepada sang ayah. Gelak tawa remaja dengan bersegaram SMA membuatnya merasa ingin menjadi bagian dari mereka, dimana ia bisa menikmati hidup layaknya anak – anak pada usiannnya, namun itu semua itu hanya angan – angan baginnya.
Setiap hari waktunya dihabiskan hanya untuk membuat dan menjual batagor.  Dengan gajih hanya sebesar Rp 400.00,00 per bulan membuatnya merasa tidak sebanding dengan apa yang ia harus lakukan. Namun itu semua dilakukannya dengan penuh keyakinan, sembari berharap ada keberuntungan datang menghampirinya. Disaat para remaja yang lain sedang asik bersolek didepan beningnya cermin kaca, tubuhnya yang hitam pekat bercucuran keringat yang membasahi, tak lagi ia risaukan demi kehidupannya yang lebih baik.
Tuhan Yang Maha Pemurah memang benar – benar memperhatikannya diatas surga, ketika ia sedang menjalani kesibukannya sebagai pedagang batagor tiba – tiba ayahnya menelfon sembari bertanya, apakah ia ingin bersekolah lagi. Pada awalnya beni enggan menjawab, namun karna ayahnya itu terus menanyakan akhirnya ia pun menjawab bahwa ia ingin bersekolah lagi. ”  Namun uang dari mana, sekolahkan mahal ?” tanyanya kepada sang ayah.
Akhirnya sang ayah pun menjelaskan bahwa ketika ia menghadiri arisan, ia ditawari oleh seseorang yang bekerja di LMDH yang bernama kang Udin untuk menyekolahkan beni, di Purwokerto tanpa dipungut biaya layaknya sekolah lain. Mendengar penjelasan tersebut, senyum yang tadinya tak pernah terpancar dari wajahnya akhirnya keluar juga. Dengan rona wajah yang bahagia ia pun akhirnya meng iyakan tawaran tersebut.
Dengan bersekolah harapannya, ia bisa mewujudkan impiannya dan juga membuktikan kepada orang yang telah menghinannya bahwa, ia yang selalu dilecehkan juga bisa lebih dari mereka.  Di PLKM Boarding School “ Mbangun Desa” Beni  dan kawan – kwan seperjuangannya di ajarkan untuk hidup mandiri dan belajar untuk membangun kehidupannya sendiri juga kehidupan orang lain. Belajar untuk kehidupan yang lebih baik adalah rutinitasnya dan juga teman – temannya di PLKM Boarding School “ Mbangun Desa”.
Mimpi itu memang belum padam dihatinya, mimpi dimana ia bisa membahagiakan kedua orang tuanya, adik – adiknya, dan juga mereka yang telah mecemoohnya. Kini saatnya bagi Beni memulai mimpinya dengan aksi nyata.

SEMOGA SUKSES KAWAN, KITA BELI DUNIA INI DENGAN SENYUMAN PRESTASI

Minggu, 05 Januari 2014

partisipatif aktif learning di boarding school mbangun desa



Sekolah tak ubahnya miniatur masyarakat.
Suasana sekolah anak mempengaruhi kondisi anak di masyarakat.
sumber : sekolah untuk kehidupan

seminggu sebelum masa liburan akhir semester, seorg guru menemui kepala sekolah menagih janji. "Pak, saya mau mengajukan cuti ssuai dengan janji Bapak dulu". Memang,diawal semester lalu guru yang bersangkutan pernah mengajukan permohonan bahwa diakhir semester ia akan berlibur bersama keluarga. Kebetulan tanggal keberangkatannya lebih awal,karena itulah ia minta izin.
"Oh ya, dulu anda berjanji bahwa akan menyelesaikan tugas-tugas anda secara tuntas sebelum mengambil cuti kan?" jawab kepala sekolah sambil balik bertanya. "Sudah pak, Jawabnya.
sambil menatap wajah guru tersebut, kepala sekolah lalu melanjutkan bicaranya. "OK, sekarang anda tunjukkan bukti bahwa tugas-tugas anda di semester ini sudah selesai".
"Baik Pak, catatan harian ini membuktikan bahwa semua materi pelajaran telah saya sampaikan kepada siswa disemua kelas yang diajar.ini daftar nilai akhir yang akan dimasukkan ke raport,semuanya lengkap pak," jawab guru dengan yakin.
"Oke, saya tahu pada setiap kali melakukan supervisi, anda telah menyampaikan semua materi pelajaran, namun saya belum dapat laporan bagaimana dengan hasil pencapaian kompetensi anak, terutaram si wahyu yang beberapa bulan yang lalu mengalami hambatan, bagaimana dia sekaran? tanya kepala sekolah lagi.
"Sudah pak, Wahyu sudah dua kali mengikuti remedial, sekarang nilainya sudah mencapai KKM Pak"
"Hmmm,baik, sekarang tolong panggilkan wahyu kesini" kata kepala sekolah.
ketika si wahyu datang, kepala sekolah memberikan selembar kertas,wahyu diminta mengerjakan sesuatu. kesimpulan kepala sekolah, ada beberapa kompetensi wahyu yang belum tuntas, padahal seharusnya sudah tuntas sesuai dengan batas minimal yang ditetapkan oleh guru.
"Menurut laporan Ibu tadi, semua tugas telah selesai, tapi kenyataannya si wahyu belum bisa apa-apa". tanya kepala sekolah.
ibu guru berupaya meyakinkan kepala sekolah dan melakukan pembelaan diri. salah satu alasan yang dianggapnya paling tepat adalah , "Wah itu bukan salah saya Pak, sewaktu saya menjelaskan topik yang berkaitan dengan kompetensi yang Bapak tanyakan itu, si Wahyu selalu main-main Pak, dia tidak mau konsentrasi ke pelajaran, dan saya sudah mengingatkan dia waktu itu, tapi dia membandel. wahyu itu memang terkenal bandel dan malas Pak", jawab guru, sambil berharap kepala sekolah memaklumi bahwa itu bukan kesalahan dia sebagai guru, tapi murni kesalahan anak.
kepala sekolah makin memperlihatkan wajah serius. lalu ia menceritakan sebuah kisah tentang seorang juragan yang menyewa pemburu profesional untuk menangkap harimau di hutan. "Kamu saya panggil kesini karena kamu terkenal sebagai pemburu profesional. saya ingin mengoleksi boneka harimau yang asli, untuk itu kamu saya bayar untuk mendapatkan harimau itu. ini senjata lengkap dengan 20 peluru", kata juragan itu kepada pemburu yang lolos seleksi. lalu si pemburu berangkat kehutan sambil membayangkan bayaran yang tinggi.
setelah beberapa hari, sang pemburu profesional kembali dari hutan dan menagih janji sang juragan.
"Bos, mana bayaran saya? tanya si pemburu
"Bayaran apa?" jawab sang juragan berlagak pilon.
"Wah Bos kan berjanji akan membayar saya, dan saya telah melaksanakan tugas saya."
"Lho apa bukti bahwa kamu telah melaksanakan tugas-mu? kata juragan.
"ini peluru yang juragan kasih ke saya sudah habis saya tembakkan, kata sang pemburu.
"Lha harimaunya mana? tanya juragan.
"Nah, ini dia Bos, waktu saya tembak, harimaunya meloncat dengan lincah, berkali-kali saya tembak, tapi harimaunya memang hebat, ia bisa mengelak dari terjangan peluru, sampai pelurunya habis Bos", jawab si pemburu dengan enteng.
Si Juragan tidak mau kalah, "Kalau menembak harimau yang sedang Tidur, atau harimau jinak yang tidak bisa melompat dengan cepat, saya tidak perlu menyewa pemburu profesional seperti kamu. Justru karena ketangkasan harimau seperti itu, maka saya menyewa kamu!" jawab juragan.
Diakhir cerita, kepala sekolah menegaskan, jika untuk mendidik ANAK PINTAR,RAJIN,PATUH dan PENURUT, saya tidak perlu mempekerjakan GURU PROFESIONAL seperti ANDA. Tuntasnya tugas seorang GURU bukan diukur dari habisnya materi pelajaran disampaikan kepada siswa.melainkan dibuktikan dengan peningkatan kompetensi yang dikuasai siswa.
Keberhasilan guru menuntaskan tugasnya dilihat dari perubahan perilaku anak, yang tadinya tidak pintar menjadi pintar,tadinya tidak tahu menjadi tahu,tadinya tidak bisa menjadi bisa, malas menjadi rajin,nakal menjadi baik, dan seterusnya. semua anak berubah ke arah yang makin baik. "Itu ukuran ketuntasan tugas seorang guru yang Profesional, apalagi anda sudah menerima tunjangan SERTIFIKASI". kata kepala sekolah.
cerita di atas mengingatkan kita bahwa selama ini yang disebut sebagai "Kurikulum tuntas 100 %" adalah tuntasnya materi disampaikan oleh guru, bukan tuntas dikuasainya oleh anak. Dalam pemahaman guru pada umumnya, tuntas kurikulum berbeda dengan daya serap siswa, dan selama ini dianggap wajar jika ada kesenjangan antara ketuntasan kurikulum dengan daya serap siswa. sementara tingkat daya serap juga hanya diukur dengan nilai angka, tidak dijelaskan bagaimana yang sudah dikuasai dan mana yang belum dikuasai anak.
Kurikulum bukan sekedar deretan materi yang harus diajarkan, melainkan juga proses bagaimana mengkondisikan agar setiap ana menguasai kompetensi dasar dalam batas toleransi yang ditetapkan. dalam hal ini kurikulum juga berperan sebagai integrator.
sebagai integrator, kurikulum mengintegrasikan berbagai sub-sub kemampuan menjadi suatu kemampuan yang utuh. dalam kontek ini, tidak ada kemampua yang lebih penting dari pada yang lain, semua memiliki konstribusi sesuai porsinya masing-masing.
Eric Jensen menyimpulkan bahwa proses pembelajaran yang hanya bertujuan untuk menuntaskan materi dengan menggunakan ceramah satu arah, biasanya dihari pertama anak mendapatkan informasi tersebut, si anak merasa dapat banyak sekali pengetahuan, namun semua informasi itu pelan-pelan akan menghilang di hari ke-14.
Akan tetapi, jika proses pembelajaran itu mengarah pada penguasaan kompetensi dimana siswa sangat aktif mengembangkan kemampuannya, dihari pertama seolah-olah materi yang didapatkan anak hanya sedikit, namun ia akan terus berkembang menanjak di hari ke-14.
Nah, jika demikian, tidak akan terjadi masalah jika tiga tahun kemudian anak diuji melalui UN. mereka diuji pada saat  penguasaan kompetensi berada di PUNCAK, sebaliknya, pembelajaran konvensional akan membahayakan anak karena semua informasi akan hilang dari memori di hari ke-14. Bagaimana dengan 3 tahun kemudian ?

sepasang sepatu yang tulus, menjadi mean of life

Jumat, 03 Januari 2014

sekolah itu mahal



“SEKOLAH TIDAK GRATIS, TAPI HARUS PRODUKTIF”
oleh : syukur aditya
Sekolah gratis, banyak sekali orang-orang mengharapkan pendidikan di indonesia semua gratis, mulai dari SD-perguruan tinggi. Tapi apa yang kini terjadi di negri ini? Banyak sekolah tingkat SLTA dan juga perguruan tinggi yang biayanya sangat mahal, apalagi jika sekolah tersebut tergolong sekolah favorit, jusru jauh akan lebih mahal. Padahal setiap sekolah sudah ada anggaran BOS (bantuan operasional sekolah) setiap tahunnya. Antara menjadi pendidik dan juga pembisnis di sekolah. Selalu ada uang,  uang gedung, SPP, uang praktek, dan juga uang untuk lest jika UN sudah dekat.
Namun, ada yang berbeda di Kabupaten Banyumas. Di kabupaten tersebut ada sebuah sekolah tingkat SLTA sekolahnya memang tidak gratis, tapi harus produktif agar kegiatan pembelajaran dan juga pemenuhan kebutuhan di sekolah bisa terpenuhi. Sekolah ini bernama Pendidikan Layanan Khusus Menengah Boarding School "Mbangun Desa". Sebuah sekolah yang di disain agar peserta didiknya siap untuk menjadi kader pembangun desa agar siap hidup di desa dan juga berbuat di desa. Salah satunya belajar berwirausaha di sekolah ini. JENIUS, kelompok wirausaha ini bergerak di bidang makanan tradisional khas banyumas ada manggleng, cantir, dan juga ampyang. Kemudian ada EMDEHA, kelompok wirausaha ini bergerak di bidang sendal bandol. Dua kelompok wirausaha ini kami jalankan sendiri oleh peserta didik, mulai dari pembuatan sampai pemasaran,. Kendala di wirausaha ini yaitu dalam pemasaran belum ada produsen yang menyalurkan produk kami.
Besar harapan kami suatu saat prodak yang kami miliki ini bisa berjalan dengan lancar dan bisa dilakukan oleh banyak orang untuk bisa berwirausaha tanpa mereka merantau ke kota dan mencari sumber penghidupan disana.

Saatnya yang muda berkarya untuk desa,,,,,

Kamis, 26 Desember 2013

dibalik Kampung Cibun




Kampung cibun merupakan kampung laboratorium peserta didik Boarding School "Mbangun Desa". kampung yang sampai saat ini masih belum bisa dijangkau oleh kendaraan roda 4 karena penghubung ke kampung tersebut harus melewati desa baseh yang terhubung dengan jembatan gantung sungai logawa, tapi kondisi tersebut tidak menjadi kendala masyarakatnya untuk terus n maju, terbukti kurun waktu 1 tahun peserta didik berkegiatan mulai dari melakukan sensus keluarga dengan pendekatan PRA (Partisipatory Rural Appraisal) yang hasilnya kita bisa menemukenali berbagai persoalan dan potensi yang cukup menarik untuk ditindaklanjuti.
Minggu, 29 september 2013 peserta didik Boarding School "Mbangun Desa" kembali lagi ke kampung cibun desa sunyalangu kecamatan karanglewas dengan berkegiatan mengadakan pelatihan wirausaha desa pembuatan ampyangdari singkong atau orang banyumas menyebutnya budin. Kondisi masyarakat desa di Banyumas khususnya ibu rumah tangga yang kurang produktif inilah yang menjadi dasar kami berkegiatan dengan harapan ibu rumah tangga di cibun akan lebih produktif. Ketua panitia (utfi utami) mengatakan “karena ampyang masyarakat cibun senang”.
Saniah instruktur yang sedang menggeluti dunia ampyang di desanya, desa singasari kita hadirkan untuk menyebarkan virus virus berwirausaha makanan tradisional (ampyang budin). Alhasil, puluhan ibu rumah tangga tampak belepotan dan berantusias mencoba praktek langsung, ada yang mengupas, memarut, menguleg bahan bahan yang harus disiapkan.
Cukup praktis ternyata membuat ampyang budin. Semua bahan sudah disiapkan (singkong, aci, ketumbar, bawang dan garam), siapkan cetakan/blengker dan segera isi dengan bahan ampyang yang sudah jadi satu. Mengukus dimulai. Tidak sampai 5 menit, ampyang yang sudah dikukus siap dijemur. Sebelum dijemur, boleh juga langsung dimakan karena itu sudah matang. Kalau kepengin gurih, ampyang harus dijemur, digoreng terus dimakan.
Pelatihan bukan hanya sekedar membuat ampyang, melainkan belajar berwirausaha yang lebih produktif, Bapak Maskur instruktur dari SKB (Sanggar Kegiatan Belajar) Purwokerto kita hadirkan untuk memberikan motivasi menjadi kelompok wirausaha produksi ampyang yang terus dikembangkan dengan harapan akan menjadi sumber pendapatan tambahan untuk kesejahteraan keluarganya.
            Jenius (Jamaah Ekonomi Banyumas) solusinya, yang akan memasarkan semua produk-produk makanan tradisional desa yang ada di Banyumas. Ungkap ketua Jenius (Tri Listriana) mengatakan, makanan tradisional (ampyang, cantir, manggleng) dan semua produk masyarakat dari singkong siap kami pasarkan karena Jenius mengembangkan pola wirausaha dengan sistem membangun berbagai kelompok jamaah (jamaah produksi/petani, jamaah distribusi/peserta didik Boarding School "Mbangun Desa", dan jamaah konsumsi/konsumen masyarakat banyumas yang menginginkan masyarakat desa sejahtera hidupnya).

Minggu, 22 Desember 2013

belajar utk mjd manusia pembelajar

belajar utk mjd manusia pembelajar

3 Oktober 2012 pukul 3:58

Majlis pendaftaran berbagi dan peduli kebahagiaan
belajar dan salah berarti kita dapat 1 ilmu tambahan...
menjadi balon bupati banyumas adl hak semua masyarakat banyumas, tanpa harus melihat latarbelakang datangnya dari golongan mana? yang pasti minimal berusia 25 tahun,dan pada intinya punya keyakinan bahwa kita itu pemimpin.
mjd orang no.1 di banyumas tidak harus org yang punya ketrampilan khusus,atau hrs kaya,atau pintar dan banyak prestasi,
saat ini yang terpenting pemimpin banyumas harapan saya hrs wajib memiliki kemampuan untuk mendengar, karena sejatinya pemimpin akn berhasil ketika mau mendengar apa yang menjadi kemauan masyarakatnya dan mampu mewujudkannya secara riil bagi masyarakat. bagaimana masyarakat kita sekarang ?
masyarakat kita sudah terlalu lama dininabobokan apa itu yang namanya money politik/politik uang, tahu itu tidak baik, ternyata masyarakat kita juga sudah terlalu banyak kena racun/virus dan kondisinya sekarang boleh dibilang krisis kepedulian dan susah untuk mau berbagi kebahagiaan, maunya bahagia sendiri.
terbukti waktu dekat ini jelas pilkada banyumas 2013-2018 Foto Copy KTP harganya fantastis melebihi harga 1/2 kg gula pasir, itu kenapa karena masyarakat kita ternyata banyak yang sudah memiliki budaya menerima dulu baru mau memberi, sangat jauh dengan konsep yang diajarkan oleh sebagian banyak kepercayaan, kalau menginginkan banyak maka memberilah ???

sekarang siapa yang mau berbagi dan peduli dengan ikhlas dan mau berbagi kebahagiaan dengan kita, caranya ndaftar jd orang berbagi dan peduli dengan membawa fotocoy KTP sbg syarat administrasi pencalonan balon bupati dari independen? langsung ke kampus boarding school "mbangun desa" almt : desa ketenger kec. baturraden dan bisa di PKBM Argowilis desa sokawera kec.cilongok.

PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS (PLK) REPLIKASI PENDIDIKAN MENENGAH UNIVERSAL (PMU)

PENDIDIKAN LAYANAN KHUSUS (PLK)
REPLIKASI PENDIDIKAN MENENGAH UNIVERSAL (PMU)
Oleh : kang_Isrodin relawan boarding school mbangun desa


Amanat UUD 1945 pasal 31 ayat 1 tersirat bahwa setiap warga Negara Indonesia berhak memperoleh pendidikan, yang kemudian secara legalitas juga terdapat pada UU Sisdiknas no.20 tahun 2003 pasa 32 ayat 2 yang menjelaskan bahwa pendidikan layanan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik di DAERAH TERPENCIL, TERBELAKANG, MASYARAKAT ADAT yang Terpencil dan atau mengalami BENCANA ALAM, BENCANA SOSIAL dan tidak mampu dari segi EKONOMI.

Dari 2156 desa hutan di Provinsi Jawa Tengah setiap tahun terdapat lebih dari 30.000 (tiga puluh ribu) anak lulusan SMP/MTs tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang Menengah.
Data terbaru tahun 2011, ada 9.000 (sembilan ribu) anak lulusan SMP/MTs di Kabupaten Banyumas tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang Menengah. Ada banyak hal yang menjadi penyebab anak-anak tidak sekolah, antara lain :
1.   Tidak ada sekolahan di sekitar tempat tinggal mereka (terutama pada daerah terpencil)
2.  Tidak mampu membayar biaya pendidikan (karena ternyata biaya sekolah sekarang menjadi sangat mahal)
3.    Tidak mampu membiayai kebutuhan pendidikan   ( Transport ke sekolah, Beli buku, biaya praktek,  bayar ekstrakurikuler, dan lain-lain
4.      Karena harus bekerja (terjadi pada anak-anak dari keluarga miskin)
Pertanyaannya apakah pendidikan bagi masyarakat yang notabenya sudah menjadi tanggung jawab negara akan dibiarkan saja ? pasti pemerintah juga sudah banyak melakukan berbagai terobosan untuk mengatasi permasalahan pendidikan yang begitu komplek. Karena kompleknya permasalahan itulah hampir disetiap kabupaten tingkat keberlanjutan anak untuk sekolah ke jenjang pendidikan menengah cukup tinggi seperti halnya yang terjadi di Banyumas, itulah kenapa di desa ketenger kec. Baturraden didirikan Pendidikan Layanan Khusus Boarding School ”Mbangun Desa”.
Seperti halnya keterangan yang dilangsir dari Suara Merdeka, Jum’at, 31 Agustus 2012 menurut Dirjen Pendidikan Menengah Kemendikbud Hamid Muhammad, saat ini saatnya pendidikan kita orientasinya harus lebih ditingkatkan bukan mengejar program wajib belajar 9 tahun, melainkan bagaimana Program Menengah Universal/PMU menjadi focus semua stake holder untuk memperjuangkan bagaimana tidak ada lagi usia sekolah yang tidak sekolah. Karena ternyata program wajib belajar 9 tahun di lain sisi peserta didik yang lulus setingkat SMP ternyata belum memiliki kesiapan dan kemampuan untuk memperjuangkan hidupnya kedepan yang lebih baik, padahal ada jumlah kurang lebih 1,2 juta anak-anak tidak terlayani di jenjang pendidikan tingkat SMA, dan kondisi saat ini pun pendidikan menengah kita juga banyak yang mengabaikan esensi dari proses pembelajaran itu sendiri, pendidikan menengah kita menurut saya harus memiliki karakter dan bekal berbagai ketrampilan hidup yang nantinya anak siap hidup dalam kondisi apapun, tentunya itu berat dan harus ada sinergitas dari berbagai pihak.
Dengan berbekal mimpi SADARLAH (semua anak desa harus sekolah) yang nantinya out put peserta didik boarding school ”mbangun desa” kita siapkan untuk menjadi kader pembangunan desa dengan segala potensinya masing-masing, dan tidak harus menunggu atau mendaftar lowongan pekerjaan karena peserta didik kita bekali 30 standar kecakapan dan ketrampilan yang harus dikuasai yang semua itu menyangkut berbagai aspek kehidupan bermasyarakat (mulai dari pendidikan karakter, kepemimpinan, akademik, bahkan pendidikan dan pelatihan ketrampilan seperti halnya ketrampilan bidang pertanian terpadu,berwirausaha ataupun menjadi kader penggerak pembangunan desanya).
Boarding school ”mbangun desa” di desain sebagai satu bentuk pendidikan layanan khusus yang gratis dan produktif ini keberadaanya sudah berjalan kurang lebih 1 tahun pelajaran yang saat ini jumlah peserta didik berjumlah 32 siswa yang berasal dari 6 kabupaten di Jawa Tengah (Banyumas,Kebumen,Brebes,Cilacap,Wonosobo,Batang) dan dengan niat ibadah dan sebagai bentuk konstribusi kami siap menampung siswa lagi dengan catatan berlatarbelakang dari keluarga yang mengalami pemasalahan ekonomi lemah, dan permasalahan yang lainnya yang mengakibatkan anak tidak bisa melanjutkan ke pendidikan menengah.
Jelas beda pendidikan layanan khusus dengan pendidikan pada umumnya, karena pendidikan yang kita desain merupakan pendidikan yang kita kondisikan bagaimana peserta didik setelah menempuh pembelajaran kurang lebih 3 tahun, nantinya peserta didik mampu hidup mandiri dan siap menentukan masa depan hidupnya yang lebih baik, yang pastinya memiliki berbagai standar kompetensi yang kita sesuaikan dengan perkembangan zaman.

Nothing is imposible but nothing is esay, di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin dan juga tidak ada yang mudah, dan yang paling penting pendidikan kita harus menjadi bagian yang tak terpisahkan dari perkembangan kehidupan peserta didik dan lingkungannya sendiri dalam kerangka mimpi hidup untuk belajar dan belajar untuk kehidupan yang lebih baik. 2012 bulan desember pegiat pendidikan boarding school mbangun desa mendapatkan Anugerah Peduli Pendidikan (APP) dari Mohamad Nuh (Menteri Pendidikan).Alhamdulillah